CHOI NAMRA

The perfect crime, it wasn't with knives
SEBELUMBAGIAN I: SI PEMBOHONG ULUNGDitemukan Mayat saat Penggusuran Rumah di Gyeongsan-doMayat Perempuan di Gyeongsan-do: Sudah Bertahun-tahun Disembunyikan di Dinding RumahIstri Pemilik Rumah yang Diduga Kabur, Rupanya Mati dan Disembunyikan Suaminya15 Tahun Tinggal Bersama Sang Ayah, Sang Anak Tidak Tahu Keberadaan IbunyaKejadian itu berlangsung cepat. Penggusuran rumah hanya berlangsung beberapa jam, tetapi proses banding yang dilakukan Choi Jinyeong, ayahku, telah berlangsung selama dua bulan meski akhirnya gagal. Ia tidak mau pindah rumah, bahkan walaupun ditawarkan tempat tinggal yang jauh lebih baik daripada rumah kumuh yang ditinggalinya bersama putri semata wayangnya, yaitu aku."Namra-yang, rumah ini adalah satu-satunya yang tersisa setelah ibumu pergi. Siapa tahu, suatu saat dia akan kembali ke rumah ini."Saat itu, aku menganggap ayahku bodoh. Untuk apa menunggu wanita yang pergi meninggalkan suami dan anaknya demi kehidupan yang lebih baik? Bukankah wanita itu egois? Namun, aku melihat sudut pandang lain--Ayahku sangat setia, ia bahkan belum menikah lagi dan menghabiskan sisa umurnya untuk bekerja dan mengurusku."Ayahku punya hak untuk menolak."Rasanya muak mendengar orang-orang dari proyek konstruksi itu, membujukku supaya berbicara dengan Ayah demi menyetujui penggusuran rumah. Tentu saja, dalam hati, aku ingin sekali pindah ke tempat tinggal yang jauh lebih baik. Wilayah yang kami tinggali bisa dibilang kumuh, kemudian seseorang ingin mengubahnya menjadi kawasan apartemen dan meminta orang-orang yang tinggal di sana pergi dengan menjanjikan rumah baru."Itu bohong. Jangan percaya, Namra."Entah atas dasar apa dia berkata begitu, tetapi yang kutahu, hubungan Ayah dan pimpinan proyek memang sudah tidak baik sebelum adanya proyek ini. Bahkan ketika proyek ini akan dimulai, Ayah menaruh prasangka bahwa ia sengaja karena ingin menghancurkan kehidupan kami. Sejujurnya, aku tidak sepenuhnya percaya, tetapi jauh lebih baik mempercayainya daripada orang lain."Aku lebih mengenal Ayahku daripada kau, jangan sok tahu."Pulang sekolah, aku sempat dihampiri oleh pemimpin proyek. Ia mengatakan bahwa, bukankah aneh jika ibuku pergi dan tak membawa apapun? Apa tidak merasa ada yang janggal dari sikap Ayah selama ini?Perkataan itu memenuhi pikiranku. Apa yang dikatakannya tidak sepenuhnya salah, mencurigai sesuatu adalah bagian dari penyidikan--itu diajarkan oleh Ayahku yang merupakan mantan detektif lembaga kepolisian. Ia pintar, bahkan di kamarnya masih ditempeli foto-foto orang hilang yang sampai saat ini belum ditemukan. Bila sudah ditemukan, ia akan mencoretnya dengan spidol biru jika mereka masih hidup, serta spidol merah jika mereka sudah mati."Kau pernah terpikirkan mengapa Ayahmu bisa menemukan orang hilang tetapi tidak bisa menemukan Ibumu?""Mungkin karena ia tidak mau.""Kenapa tidak mau?""Ibuku kabur, bukan hilang."Ya, aku pernah menanyakan itu sewaktu aku menginjak sekolah dasar. Ayahku bersikeras bahwa Ibu tidak perlu dicari, ia kabur dengan sendirinya dan itu adalah pilihannya."Yang bisa kita lakukan hanya menunggu Ibumu kembali."Saat itu, aku tidak tahu kalau yang kudengar selama ini adalah sebuah kebohongan.BAGIAN II: GADIS YANG TUMBUH BERSAMA KEBOHONGANMayat yang ditemukan di dinding rumah daerah Gyeongsan-do itu diautopsi. Prosesnya bisa dikatakan cukup sulit dikarenakan yang tersisa hanyalah tengkorak dan tulang-tulangnya saja. Namun, yang menjadi tersangka adalah ayahku karena mayat itu ditemukan di dinding rumah kami.Itu adalah ibuku.Tanpa alasan yang jelas, ibuku ingin pergi meninggalkan rumah dengan membawaku. Ayah berusaha membujuk, memaksanya untuk tetap tinggal. Namun, keduanya bertengkar hebat. Saat itulah, ayahku kehilangan kendali dan memukul kepala ibu dengan vas bunga. Seketika, ia meninggal.Ayahku seorang detektif. Ia tahu bagaimana caranya menyembunyikan mayat berdasarkan kasus-kasus yang ditelusurinya. Lantas, ia memilih dinding sebagai tempat untuk menyembunyikannya. Bertahun-tahun aku hidup, aku tidak mengetahui hal itu dan membenci ibuku. Rupanya, aku harus melewati kenyataan pahit bahwa selama ini aku hidup di tempat di mana ibuku terbunuh oleh pria itu.Apa yang dikatakan pimpinan proyek itu benar. Kalau saja ia tidak menggusur secara paksa, mayat ibu tidak akan pernah ditemukan. Pengacara ayah juga sempat dilibatkan, tetapi ia juga sama sekali tidak mengetahui hal itu dan hanya melakukan tugasnya: membatalkan penggusuran rumah.Ayahku terbukti bersalah, dan sekarang ia mendekam di penjara.BAGIAN III: KEBENARAN LAINNYASebagian orang di sekolah membenciku tanpa alasan jelas, tetapi sebagian lagi juga berempati--menganggap aku adalah korban sebagai akibat dari KDRT. Jujur saja, aku tidak begitu senang dikasihani tetapi saat itu aku bingung harus tinggal dengan siapa. Rasanya menyedihkan karena aku harus tinggal seorang diri.Saat itulah, seseorang datang dan mengatakan kebenarannya.“Bisakah kau berhenti merekam?” Aku merasa terganggu, pasalnya kepergian Ayah ke balik jeruji besi sama sekali tidak membuatku sedih. Alih-alih menangis, aku lebih baik segera mencari pekerjaan paruh waktu untuk menghidupi diriku sendiri. Namun, orang-orang tolol ini tidak mau berhenti merekam.“Namra, ayo lihat ke kamera,” pinta camera person yang ada di hadapan. Aku melirik sebal, menurut saja sampai semua selesai. Lelaki di sebelahku mendekatiku, sedikit membuatku jijik meski bergaya layaknya chaebol. Tanpa mempedulikan raut wajahku, ia mulai berbicara.“Annyeonghaseyo! Selamat datang di kanal YouTube Dohyukdo! Saat ini, saya sedang bersama Choi Namra. Gadis yang baru saja ditinggalkan oleh Ayahnya yang menjadi pelaku kejahatan pembunuhan. Halo, Namra, kau umur berapa sekarang?”Aku tidak menjawab, melihat wajahnya saja tidak mau.“Ah, kalian lihat? Inilah efek psikologis anak yang memiliki orang tua pelaku kejahatan. Mereka akan mengalami trauma, enggan berbicara karena masih takut bersosialisasi ...”Tolong, berikan dia cermin. Orang yang membuat trauma di sini justru adalah pemilik dari kanal bernama Dohyukdo. Kalau dia mau membantu, kenapa tidak berikan saja aku uang dan dia bisa pergi menghabiskan uang lainnya bersama jalang yang haus akan afeksi? Bangsat.Proses perekaman selesai dalam beberapa menit. Tidak lama, dan aku bisa bernapas lega setelahnya. Kutadahkan telapak tangan di hadapannya, meminta bayaran atas apa yang telah dia lakukan.Dan itu justru dibalas dengan tawaan.“Kau mau uang? Cari pekerjaan! Dasar orang miskin, bisa-bisanya hanya meminta pada orang kaya.”Kutonjok orang bernama Dohyukdo (aku tidak tahu itu nama asli atau tidak) tepat di hidungnya. Seketika pukulanku membuatnya terbujur kaku jatuh dan berdarah. Meski beruntung tidak ada yang merekam, Dohyukdo justru mengatakannya di video dan mengatakan bahwa, “AKU MEMAAFKAN CHOI NAMRA.”Belakangan setelahnya, aku baru mengetahui bahwa dia seorang aktor drama yang memulai vlog.Begitu video itu tersebar, seseorang menemuiku. Ia mengatakan aku bukanlah anak Choi Jinyeong. Ibuku berselingkuh dengan lelaki lain, itulah mengapa dia bersikeras untuk pergi. Mereka mempunyai seorang anak.Dan itu adalah aku.Lelaki itu berkata bahwa ia mencari keberadaan ibu, tetapi ia tidak bisa melaporkannya ke polisi karena ini adalah perselingkuhan. Rencana pergi dari rumah itu pun adalah ajakannya. Namun, ibuku tidak pernah datang. Bertahun-tahun, ia mengetahui bahwa anaknya telah tumbuh menjadi gadis cantik. Setelah berita mengenai mayat di dinding rumah itu beredar, ia, ayah kandungku, langsung mencari keberadaanku.Sekarang, aku tinggal bersamanya.
SESUDAHBAGIAN I: SI AHLI DAYA INGATHal yang telah dilakukan ayahku adalah tindakan kriminal. Membunuh seseorang kemudian menyembunyikannya. Sungguh ironis karena bertolak dengan pekerjaannya yang mengungkapkan kebenaran. Namun, ia malah menyembunyikan fakta dan hidup seperti biasa layaknya tidak terjadi apa-apa."Bukankah itu lebih menyeramkan daripada tindakan pembunuhannya? Maksudku, membohongi keluarganya sendiri selama bertahun-tahun."Ada sisi baiknya juga si orang sialan itu memulai vlog. Selingkuhan Ibuku—dengan kata lain Ayah kandungku, menemukan keberadaanku dan menjemputku. Tak perlu khawatir akan uang, ia rupanya adalah seorang pengusaha dalam bidang manufaktur.Namun, terdapat aturan bahwa aku tidak boleh menyebutnya sebagai ayah. Citranya adalah seorang pengusaha yang belum menikah, dan mengadopsiku sebagai anak demi kebaikanku—atau lebih tepatnya untuk menjaga citranya di mata publik.Rasanya aku tidak mau terima, tetapi uang adalah kebutuhanku yang paling krusial. Meski aku memiliki uang dari olimpiade daya ingat dan uang bantuan karena narapidana itu, aku belum bisa mengatur keuangan. Khawatir suatu saat akan habis, aku tidak mungkin menjadi seorang pelacur dan menjual tubuhku demi sesuap nasi. Lantas, kuterima saja tawaran sebagai “anak angkat” itu dan tinggal di sebuah apartemen mewah di Seoul. Aku dipindahkan ke SMA Internasional, dan kehidupanku berubah seketika.Kami tinggal di sebuah apartemen elit yang sulit untuk mendapatkan tetangga karena orang-orang yang individualis dan sibuk. Tentu itu tidak menjadi masalah karena aku juga sibuk dengan kehidupan sekolahku.Sebagai sekolah internasional, keseharian menggunakan bahasa inggris adalah kewajiban. Aurora, itu nama inggrisku, kupilih karena aku sangat menyukai aurora yang ada di langit dan menginginkan untuk melihatnya secara langsung. Sayangnya, aku tidak begitu mahir dalam berbahasa asing, tetapi aku juga tidak mau menyerah. Belajar giat hingga rasanya aku tidak bisa merasakan tangan dan kakiku karena saking lamanya duduk di depan meja belajar. Salah satu hal yang membuatku mudah untuk belajar, selain karena ayah kandungku yang memberikan segala keperluan, aku adalah seorang Grand Master Memory.Sejak kecil, aku sangat senang menghafal. Ibu kota negara, 100 digit angka phi, nama latin hewan dan tumbuhan, bahkan identitas seseorang pun aku berusaha untuk mengingatnya. Tentu saja ini bukan bakat yang dibawa sejak lahir, melainkan karena usaha keras. Olahraga daya ingat tidak begitu populer, tetapi kompetisinya melibatkan berbagai negara. Ayahku (si pembohong itu) melihat potensiku dan karena itulah dia mengundurkan diri dari pekerjaannya, memilih untuk mengurus putrinya setiap hari."Dan pemenangnya adalah Choi Namra dari Korea Selatan!"Benar-benar prestasi yang membanggakan karena setahun sebelum kejadian penggusuran itu, aku berhasil menjuarai kompetisi daya ingat cabang dunia. Aku mendapatkan banyak uang, bahkan dengan uang itu, kami bisa pergi mencari rumah baru. Aku sempat menyarankan hal itu, tetapi ayah pembohong itu enggan. Maka dari itulah, aku sempat heran dan jengkel.Lantas, berkat kemampuanku itu, aku bisa belajar dengan cepat, menyusul kemampuan teman-temanku. Bahkan, aku bisa masuk ke Seoul National University, salah satu universitas terbaik di Korea dan dunia. Aku memilih jurusan kriminologi. Dengan latar belakangku yang seperti itu, haruskah kujelaskan mengapa aku memilih kriminologi?Di umur internasionalku, 20 tahun (Korea: 21), aku sudah lulus sarjana strata 1. Sekarang, tuan pengusaha memintaku untuk mempelajari berbagai bahasa di dunia dan juga menempuh pendidkan magister bisnis. Bagaimana pun, aku adalah penerusnya.BAGIAN II: PERMINTAAN“Ini terakhir kalinya aku mengunjungimu,” aku berbicara pada si narapidana layaknya konsumen menghadap dengan customer service—terhalang kaca dan hanya ada celah kecil di bawah.Pria itu membuang napas kencang, memerhatikanku dengan wajah sedih. “Jadi, apa rencanamu setelah lulus kuliah jurusan Kriminologi? Kau bahkan lulus dari SNU, sedikit lebih muda daripada sarjana lainnya. Kau akan bekerja di mana?”Bekerja, ya...Aku bahkan belum memikirkan itu. Tuan pengusaha memintaku melanjutkan studi magister dan bahasa asing negara Eropa, katanya supaya aku bisa melanjutkan usahanya suatu saat nanti. Atau paling tidak, berguna menjadi “kacung” perusahaan.“Jika ini adalah kunjungan terakhir, aku ingin meminta tolong sesuatu. Kau ingat foto-foto yang berada di kamar rumah penggusuran itu? Foto orang hilang yang kucari, aku sempat membereskannya. Ini, terimalah.” Dari celah kecil, ia menyodorkan satu bungkus rokok—yang aku tahu bahwa isinya bukanlah rokok. Sial, aku bahkan tidak mengiyakan aku akan membantunya atau tidak.“Kau ingin aku terjun ke dunia kriminal?”---Untuk orang yang tidak begitu pakem dalam teknologi, aku perlu waktu untuk bisa mengakses deepweb. Beruntung aku memiliki uang, tinggal membayar seseorang dan memintanya tutup mulut.Gulir ke bawah.Gulir ke bawah.“WAHAHAHAHA!”Terlihat sebuah iklan jasa yang mengatakan bahwa, jika kau ingin bunuh diri tetapi kau takut, kau bisa menghubungi xxxx.Aduh, ini menyenangkan sekali. Aku sampai lupa apa yang akan kulakukan di sini.Hingga kulihat ... apa ini?---“Terlalu banyak kejahatan di dunia ini.”
“Ya, kau salah satu pelakunya.”
“Aku tidak mau kau terlibat. Aku hanya ingin meminta ... perluas saja koneksimu. Cari orang-orang yang kucari selama ini, bahkan meski mereka hidup atau mati. Kau bahkan tinggal bersama seorang pengusaha. Apa kau yakin dia hanya memiliki usaha manufaktur?”
Aku menelan ludah. “Lucu, kau malah membalikkan keadaan. Jadi, apa yang perlu kulakukan?”
“Aku pernah mendengar tentang sebuah ...”---Klik.“Apa yang kau lakukan, Choi Namra? Kursus bahasa Jermanmu akan dimulai tiga puluh menit lagi. Jung Taeun sudah menunggu.” Tuan pengusaha menggerutu.Terkadang, ia memilih bekerja di kantor apartemen supaya bisa bekerja lebih tenang, dan itu benar-benar menyulitkanku.Lekas kututup laptop-ku, memasukkannya ke dalam tas dan pergi ke kursus sesuai arahan yang dia minta: pergi bersama Jung Taeun.

| PROFIL | ||
|---|---|---|
| Nama Lengkap | Choi Nam Ra | 최남라 |
| Tempat Lahir | Gyeongsan | 경산 |
| Tanggal Lahir | Desember 06 | 2000 |
| Pendidikan | Seoul National University | Kriminologi |
| Tinggi Badan | 162 cm | |
| Faceclaim | Rocket Punch | Kim Yeonhee |
“HAHAHAHAHAHA!”Sial, ini lucu sekali. Brengsek. Bisa-bisanya penyanyi sekelas Kwon Hyunbin—yang sedang berada dalam puncak karirnya, sekarang ditangkap atas penggunaan narkoba?“Kau baca apa, sih?” Pemuda yang berada di sebelahku, Jung Taeun, menundukkan kepalanya untuk melihat majalah yang ada di genggaman. Lantas, ia mengerutkan dahi begitu melihat sampul bertuliskan “Celebrity of Today”, karena di sana tidak ada rubrik tentang komedi. Sorot matanya kembali melihat ke arahku, menaikkan sebelah alis seakan bertanya jadi-apa-yang-lucu?Aduh, mulutku tidak bisa berhenti tertawa. “Lihat ini!” Kutunjukkan lembar halaman khusus membahas Kwon Hyunbin, diberikan judul, “Sempat Mengelak, Hasil Tes Kwon Hyunbin Positif Narkoba”. Selintas, orang mungkin akan mengira kalau aku memiliki masalah dengan orang bernama Kwon Hyunbin—memiliki dendam sampai menertawakannya ketika dia berada dalam kesulitan. Tapi, tidak. Aku bahkan tidak mengenal Kwon Hyunbin. Lagunya saja tidak pernah dengar, hanya tahu beberapa judul seperti “Good Girls are Bad Girls” atau “Beautiful Girl”, yang dari judul saja kedengarannya sangat cringe.Taeun menggaruk tengkuk. “Kau tertawa karena dia positif narkoba?”
Ah, perlu waktu untuk menjelaskan ini. “Ya ... Aku tidak suka selebriti.”
“Lalu kenapa kau membaca ...”
Aku sudah tahu pertanyaan ini, dengan cepat aku memotong untuk segera menjawab. “Kau tahu, aku mendapat kesenangan ketika mereka berada dalam skandal. Entah, tapi rasanya ...”“Kadang kau membuatku bergidik ngeri,” Taeun mengerutkan dahi mendengar jawabanku. Aku hanya mengangkat bahu, melirik jam. Lima menit lagi kelas dimulai.“Kenapa kau ingin belajar bahasa Jerman?” Kali ini, aku mengalihkan pembicaraan. Kelopak mata Taeun berkedip, melihat ke arahku. “Uhm, ya, aku hanya suka bahasa. Siapa tahu berguna saat aku traveling nanti.”Jawaban tidak menarik.“Kalau kau?”
“Ya, diminta oleh ... kau tahu, katanya aku bisa meneruskan usahanya suatu saat nanti.”
“Kalau begitu bagus, masa depanmu terjamin.”
Ah, cobalah kau jadi anaknya dan setiap hari ditekankan oleh bisnis, bisnis, dan bisnis.“Adakah kata dalam bahasa Jerman yang menjadi favoritmu?”
“Ada,” kunaikkan kedua alis—menatapnya dengan serius.
“Apa?”
“Schadenfreude.”
Hal-hal penting tidak penting mengenai Choi Namra :- Membenci selebriti, idol, aktor, aktris, semua orang yang berprofesi di dunia entertainment.- Tidak segan menghabiskan uang demi penampilan.- Genit setengah mati, tetapi kemudian akan mengatakan, "Aku sayang pacarku," jika mendapat balasan godaan.- Sangat menyayangi Jung Taeun.- Hafal semua ibu kota negara, nama latin tumbuhan dan hewan, 100 digit angka phi, rumus matematika, serta wajah-wajah orang hilang.- Berbicara kasar pada orang yang memancing emosinya bahkan jika orang itu lebih tua darinya.- Memiliki one punch atau bisa membuat orang pingsan hanya dengan satu tonjokannya.- Terkadang bisa menunjukkan sisi imut, hangat, ataupun dingin.- Mudah panik dan berteriak.

| Choi | Namra's | Boyfriend |
|---|---|---|
| Nama | Jung | Taeun |
| Lahir | April 20 | 2002 |
| Status | Mahasiswa | SNU |
| Tinggi | 180 | cm |
| Faceclaim | ENHYPEN | Jay |
Anak dari pemilik perusahaan yang menjadi kerabat dekat tuan pengusaha (ayah kandung Namra)
Memiliki hubungan romansa dengan Choi Namra akibat diminta oleh kedua belah pihak perusahaan.
Selalu mengiyakan perkataan Choi Namra yang membuat gadis itu luluh di hadapannya.
Diam-diam juga memiliki perasaan pada Choi Namra, walaupun selalu mengatakan, "Hubungan kami tidak terdapat ikatan perasaan."